STASIUN BUMI PENERIMA DATA RADAR

Infrastruktur pemantauan kelautan berbasis teknologi satelit untuk mendukung pengawasan dan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.

Sejarah Stasiun Bumi BPISDKP

Stasiun Bumi BPISDKP berawal dari implementasi Project INDESO (Infrastructure Development of Space Oceanography), yaitu proyek strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dirancang untuk membangun infrastruktur oseanografi modern berbasis teknologi satelit di Indonesia. Proyek ini tidak hanya berfokus pada penguatan sistem observasi kelautan, tetapi juga mencakup pengembangan perangkat lunak canggih untuk pemodelan sirkulasi arus laut, biogeokimia, serta dinamika populasi ikan, khususnya tuna.

Project INDESO merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Prancis, melalui perusahaan teknologi CLS (Collecte Localisation Satellites). Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam transfer teknologi dan peningkatan kapasitas nasional di bidang oseanografi operasional.

Sejak diresmikan secara penuh pada tahun 2015, INDESO berperan signifikan dalam memperkuat sistem pemantauan sumber daya kelautan dan perikanan berbasis satelit di Indonesia. Inisiatif ini sekaligus menegaskan komitmen Indonesia dalam mengoptimalkan pengelolaan sumber daya kelautan secara berkelanjutan serta memperkuat posisinya sebagai negara maritim yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

* * * * *

Stasiun Bumi BPISDKP

Stasiun Bumi BPISDKP merupakan fasilitas yang dimiliki oleh BPISDKP di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang berfungsi untuk menerima data citra satelit radar (Synthetic Aperture Radar / SAR) secara langsung dari satelit penginderaan jauh. Melalui antena dan sistem penerima (ground station), data satelit ditransmisikan (downlink) ke bumi untuk kemudian diproses menjadi informasi geospasial kelautan.

* * * * *

Citra Satelit Radar

Citra satelit radar merupakan data penginderaan jauh yang dihasilkan melalui teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR), di mana satelit berperan sebagai sensor aktif yang memancarkan gelombang mikro ke permukaan bumi dan merekam kembali sinyal pantulannya. Berbeda dengan citra optik yang bergantung pada cahaya matahari dan rentan terhadap gangguan cuaca, citra radar mampu menembus tutupan awan, asap, dan kabut, serta beroperasi secara konsisten selama 24 jam, baik siang maupun malam.

Keunggulan ini menjadikan citra radar sangat penting bagi wilayah tropis seperti Indonesia, karena memungkinkan pemantauan lingkungan secara presisi tanpa terpengaruh kondisi cuaca, mulai dari deteksi kapal ilegal dan tumpahan minyak di laut hingga pemantauan perubahan penggunaan lahan secara near real-time.

* * * * *

* * * * *

RADARSAT

by MDA Space, Canada

COSMO-SkyMed Gen 1 & 2

by e-GEOS, Italy

BPISDKP mengelola data penginderaan jauh berbasis satelit radar (Synthetic Aperture Radar/SAR), khususnya dari satelit RADARSAT milik MDA (Kanada) serta satelit COSMO-SkyMed generasi pertama dan kedua yang disediakan oleh e-GEOS (Italia). Teknologi SAR memungkinkan perekaman permukaan laut secara konsisten tanpa dipengaruhi kondisi cuaca, tutupan awan, maupun pencahayaan, sehingga dapat digunakan siang dan malam hari.

Citra SAR tersedia dalam berbagai mode akuisisi dengan resolusi dan cakupan area yang berbeda sesuai kebutuhan pemantauan, serta dimanfaatkan untuk deteksi objek di laut seperti kapal, pemantauan aktivitas kelautan, identifikasi tumpahan minyak, hingga mendukung pengawasan dan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.

Stakeholders

Beberapa stakeholder telah memanfaatkan hasil pengolahan data citra satelit radar yang dikelola BPISDKP
dalam mendukung kegiatan pemantauan di sektor kelautan dan perikanan :

Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya
Kelautan dan Perikanan

Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut

Let’s work together on your
next project


Dengan integrasi teknologi satelit radar, pemantauan laut menjadi lebih efektif, efisien, dan mampu memberikan solusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut serta memerangi aktivitas yang merugikan lingkungan.